Penjual Gudeg Umur 90 tahun Harusnya Masuk Guiness Word Record

Penjual Gudeg Umur 90 tahun Harusnya Masuk Guiness Word Record

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Selain dikenal sebagai “Kota Pelajar”, Yogyakarta juga dikenal dengan julukan “Kota Gudeg”. Gudeg menjadi menu yang mudah dijumpai di penjuru Kota Yogyakarta.

Salah satunya Gudeg Mbah Lindu di Jalan Sosrowijayan, Yogyakarta. Istimewanya, Mbah Lindu, sang penjual yang kini berusia 96 tahun, sudah berjualan gudeg bahkan sebelum zaman penjajahan Jepang.

“Tahunnya kapan saya sudah lupa, tapi sebelum Jepang datang. Wong Jepang datang itu saya sudah punya anak satu,” ujarnya.

Perempuan yang memiliki nama asli Setya Utomo ini menuturkan, saat pertama kali berjualan, dirinya berkeliling menjajakan dagangannya dengan berjalan kaki dari rumahnya di Klebengan, Caturtunggal, E-6 Depok, Sleman, ke kawasan Kaliurang.

DISKON 31% HANYA BULAN INI,KLIK GAMBAR DIBAWAH INI!

“Gudeg saya gendong, lalu jalan kaki berkeliling. Zaman dulu kan tidak ada bus, rumah juga belum banyak seperti sekarang,” ungkapnya saat ditemui Kompas.com di Jalan Sosrowijayan, Yogyakarta, Selasa (19/1/2016) pagi.

Perempuan yang dikaruniai lima anak dan 15 cucu ini mengaku merasakan transaksi dengan menggunakan mata uang “benggol” dan sen. Bahkan, dia berjualan pada masa empat sampai lima pincuk nasi gudeg hanya seharga satu sen.

“Benggol, terus uang koin yang bolong tengahnya itu saya sudah mengalami. Wong zaman itu satu sen bisa mendapat empat sampai lima pincuk gudeg,” ujarnya. Hanya saja, dia mengaku lupa alasan awalnya ikut berjualan gudeg. “Lupa, Mas, tetapi kan di desa zaman dulu banyak yang buat gudeg,” ucapnya.

Dikunjungi turis asing Setelah puluhan tahun berjualan gudeg dengan keliling berjalan kaki, kini usaha Mbah Lindu menetap di sebuah poskamling di Jalan Sosrowijayan. Mbah Lindu hanya menyediakan kursi berukuran 1,5 meter tanpa meja.

Sensasi kesederhanaan ini semakin membuat pembeli seakan-akan berada di Yogyakarta zaman dahulu.

Gudeg Mbah Lindu selalu habis diserbu pembeli setiap hari. Banyak pula pembeli yang memborong gudegnya untuk dibungkus sebagai oleh-oleh.

“Ya, sekarang di sini. Pagi diantar cucu dengan mobil terbuka itu. Buka dari jam 5 pagi sampai jam 10 pagi,” ujarnya. Saat ini, setiap hari Mbah Lindu berjualan dibantu oleh anak kelimanya, Ratiah (50).

Namun, Ratiah hanya membantu untuk penghitungan uang. Mbah Lindu sendiri tetap yang mengerjakan penyajian makanan di atas piring atau bungkusan. Meski hanya di depan poskamling dan berada di pinggir jalan, tetapi pembeli Gudeg Lindu cukup bervariasi, mulai dari masyarakat Yogyakarta, tukang becak, mahasiswa, sampai wisatawan lokal maupun asing.

Bahkan, menurut Ratiah, sejumlah orang terkenal di Indonesia juga masih sering memesan gudegnya.

“Ada pakar kuliner Indonesia Willi Wongso, lalu perancang busana terkenal itu siapa saya lupa, juga sering ke sini. Yang pakar kuliner itu sampai perintah sopirnya untuk beli lalu dibawa ke Jakarta,” tuturnya.

Tak hanya orang Indonesia, sejumlah turis mancanegara juga pernah mampir karena mendengar ketenaran gudeg buatannya.

“Beberapa kali ada wisatawan dari Singapura dan Malaysia yang ke sini. Lalu pesan beberapa besek untuk dibawa ke negaranya,” ungkap Mbah Lindu.

Pertahankan cita rasa Mbah Lindu juga berusaha mempertahankan resepnya. Meski sudah lanjut usia, dia masih meracik bumbu dan mengolah gudeg dengan tangannya sendiri demi mempertahankan cita rasa asli gudeg buatannya.

“Resep masih seperti dulu, tidak pernah berubah sama sekali. Jenisnya juga masih sama, krecek, gudeg, tahu tempe, dan telur ayam,” kata Mbah Lindu.

Mbah Lindu menyajikan makanan khas Yogyakarta ini dengan pincuk, yaitu daun pisang yang dijepit lidi. Gudeg Mbah Lindu buka dari mulai pukul 05.00-10.00 WIB setiap hari.

Saat ini, dia menjual menu gudegnya dengan harga Rp 15.000-Rp 20.000.

“Saya mau berjualan terus sekuatnya. Mau diberikan rezeki banyak atau sedikit ya harus tetap disyukuri,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *